Rabu, 07 Mei 2014

Anchorman 2: The Legend Continues (2013)

Anchorman 2 Movie Poster     
Director : Adam McKay
Writter   : Will Ferrell & Adam McKay
Cast      : Will Ferrell, Paul Rudd, Steve Carell, David Koechner, Christina Applegate, Kristen Wigg.

     Baru saja tahun 2013 kemarin saya menonton ‘Anchorman: The Legend of Burgundy’ yang menurut saya cukup bagus dan sangat menarik karena saya dapat menikmati film komedi dengan mengangkat tema cerita tentang penyiar berita pada tahun 70'an. Ternyata di tahun 2013 kemarin pula sekuelnya ‘Anchorman 2: The Legend Continues’ akan rilis. Ragu? ya, penasaran? sudah pasti, mengingat ada Steve Carrell dan Paul Rudd (my favorite comedy actor) yang akan kembali ngehe' dalam membawakan berita.

      

     Menceritakan kembali tentang Ron Burgundy (Will Ferrell) yang sudah menikah dengan rival di film sebelumnya, Veronica Corningstone (Christina Applegate). Konflik terjadi saat Veronica mendapatkan promosi jabatan yang menjanjikan dan Ron malah dipecat karna kualitas kerjanya yang semakin buruk. Konflik rumah tangga pun bergejolak dan Veronica pergi dari kehidupan Ron beserta anaknya. Dalam kegalauan Ron, ada seseorang pria yang mengajaknya menjadi pembawa acara berita di stasiun tv baru bernama GNN. Ron yang menginginkan karirnya mencapai puncak lagi pun memanggil team beritanya yang sekaligus sahabatnya Brick Tamland (Steve Carell), Brian Fantana (Paul Rudd) dan Champ Kind (David Koechner).


     9 tahun sebelum film pertama dibuat ternyata tidak membuat film ini menjadi begitu matang seperti yang diharapkan. Naskahnya terlalu dipaksakan untuk membuat suasana menjadi lucu. Dialognya yang bawel rasanya terbuang sia-sia. Beruntung sekali ada Steve Carell yang menurut saya berhasil menyelamatkan sequence-sequence yang mulai terasa menjemukan. Dan, beruntungnya bagian Brick dalam sekuel ini jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan film pertama. Ditambah, Brick mempunyai love interest yang mana setiap adegan tersebut berhasil membuat saya tertawa terbahak-bahak dan mulai merengut kembali ketika Brick menghilang dalam layar. 


     Dari awal, film ini memang sudah berhasil membuat saya merengut dan merasa bosan. Banyaknya peristiwa-peristiwa yang klise rasanya membuat saya ingin cepat-cepat menyelesaikan film yang durasinya terlalu panjang untuk sebuah sequel film comedy. Untungnya saat menuju tengah film, saya mulai merasa nyaman dengan film ini. Sayang, kenyamanan itu tidak dapat bertahan lama karna plot-plot yang benar-benar membuat kecewa. Adam McKay & Will Ferrel mungkin terlalu bersemangat ingin membuat sebuah sekuel dengan banyak bumbu di dalamnya seperti hubungan ayah dengan anak, persahabatan, percintaan dan tentu saja pembelajaran hidup. Menarik sebenarnya. Sayang, McKay & Ferrell tidak bisa membungkus banyak hal tersebut dengan rapi dan padat. Kecewa.



     Sebenarnya, Anchorman2 ini tidak begitu buruk. Hanya perlu kesabaran saja untuk menuju akhir. Karena di bagian akhir saat semua penyiar berita dari berbagai macam televisi bertemu untuk mengadakan semacam ‘war’ dimana adegan itulah klimaksnya yang berhasil membuat saya tersenyum dan ternganga lebar. Begitu banyak cameo-cameo yang diperankan actor dan aktris terkenal yang tentunya begitu mengejutkan dan pastinya membuat terbahak-bahak. So, Brick dan adegan ‘war’ antar stasiun tv yg baru saja disebutkan memaafkan saya atas kekecewaan saya di hampir seluruh film. Btw, adegan slo-mo ketika kecelakaan mobil itu benar-benar gila! Berhasil membuat saya tertawa lebar sambil menahan sakit perut!! 

Stranger by The Lake / L'inconny du lac (2013)



Written & Directed : Alain Guiraudie
Cast : Pierre Deladonchamps, Christophe Paou, Patrick d'Assumçao, Jérôme Chappatte.


     Posternya yang  sangat menarik dengan warna-warna yang berani sudah jelas membuat saya ingin mengetahui lebih jauh tentang Stranger by The Lake yang bisa dibilang sempat menjadi bahan pembicaraan yang ramai diperbincangkan. Lagi-lagi, kebiasaan saya ketika ingin menonton sebuah film, saya tidak pernah mencari tau review/resensi ataupun trailernya. Cukup melihat poster dan genre-nya saja rasanya sudah sangat cukup buat saya.


     Bersetting saat musim panas di danau Sainte-Croix, danau tempat berkumpulnya pria-pria gay (like a gay bar) ada seorang pria bernama Frank (Pierre Deladonchamps) yang selalu menyempatkan dirinya untuk datang ke danau tersebut untuk menghilangkan penat (berenang, berjemur atau berhubungan seks di dalam hutan). Di danau tersebut ia berkenalan dengan Henri (Patric d'Asumcao) seorang pria Straight yang baru saja pisah ranjang dan datang ke danau tersebut hanya untuk melepas penat. Frank dan Henri sering bertemu hanya untuk berbincang-bincang sementara. Frank pun menaruh perhatian pada seorang pria bernama Michel (Christophe Paou) yang begitu seksi, namun sudah memiliki pasangan atau lebih tepatnya 'partner' di danau tersebut. Hingga suatu hari saat sudah agak malam dan danau sudah sepi, tanpa sengaja Frank melihat Michel sedang menenggelamkan 'partner'nya di tengah danau. Dari situlah semuanya menjadi lebih rumit, apalagi ketika hubungan Frank menjadi lebih dekat dengan Michel, dan seorang detektif swasta (Jérôme Chappattes) sering datang ke danau tersebut untuk melacak.


    Menurut saya, ‘Stranger by The Lake’ adalah sebuah film dengan langkah yang sangat berani. Pengemasannya begitu menarik. Pemilihan untuk tidak ada sedikitpun music dalam film membuat film ini terasa lebih mendalam, sunyi dan begitu thrilling.  Sinematografinya yang cantik dapat memvisualisasikan kejahatan yang ditutupi dengan keindahan. Beberapa long-take yang memberikan kesan natural pada sebuah scene begitu berhasil buat saya dan penempatannya pun tepat, sehingga tidak terlalu membosankan, mengingat tempo film ini lumayan lambat. Sang sutradara Alain Guiraudie, berhasil membuat naskah yang cerdas, menarik dan berhasil membuat sebuah drama-thriller ini menjadi begitu mencekam, penuh cinta dan terkadang lucu dan menyebalkan.


     Dari artikel yang saya baca, tadinya Alain ingin menggunakan aktor-aktor film porno dalam film ini, tetapi ia tidak begitu suka dengan ekspresinya yang terasa berlebihan. Oleh karena itu, saya berterimakasih kepada dua actor yang sangat professional, Pierre Deladonchamps dan Christophe Paou yang berhasil memerankan karakternya dengan sangat baik dan begitu natural meskipun dalam keadaan tanpa busana sama sekali. Ya, sekitar 85% dalam film ini kalian akan melihat pria bugil dimana-mana. Tetapi itu tidak menjadi masalah, secara tidak sadar ketika saya menontonnya, saya malah begitu terpana dengan naskah dan teknisnya yang sangat menarik tanpa harus salah focus kemana-mana. hehe



          Sebuah karya dari Alain Guraudie yang begitu bagus dan menarik! Naskah yang cerdas, visual yang cantik, sexy, professional actor, interesting story, and this is French!!! Very recommended!

Jumat, 04 April 2014

Philomena (2013)


Director          : Stephen Frears
Scriptwriter     : Steve Coogan & Jeff Pope
Cast               : Judi Dench, Steve Coogan

     Saya akui semua kandidat peraih Best Motion Picture of The Year di Oscar ke 86 kemarin memang bagus-bagus dan mudah dinikmati siapa saja. Kalaupun mengambil tema yang berat, pastinya akan digarap seringan mungkin. Philomena yang kali ini akan saya bahas. Film sederhana yang menjadi underdogs saat Oscar kemarin bersama kerabatnya Nebraska.


     Martin Sixsmith (Steve Coogan) mengalami masa krisis dalam hidupnya pasca dirinya dipecat. Martin mencoba keuntungannya dengan menulis buku sejarah Rusia. Sayangnya, proses pembuatan buku tersebut banyak mengalami hambatan. Hingga akhirnya Martin menerima tawaran seorang pegawai bar untuk membuat buku dengan tema ‘human interest’ tentang Philomena Lee (Judi Dench). Pada tahun 50-an Philomena muda melahirkan seorang anak bernama Anthony di biara. Anthony yang masih berumur 3 tahun diadopsi secara diam-diam. Hal itu tidak pernah dilupakan Philomena. Dalam proses penulisan buku tentangnya, ia mengajak Martin untuk mencari anaknya dan dari sinilah semuanya di mulai.


     What a movie! Film yang diadaptasi dari kisah nyata yang dibukukan ini benar-benar menggetarkan hati sekali. Saya jadi tertarik untuk membaca bukunya yang berjudul “The Lost Child of Philomena Lee”. Naskah yang segar dan sangat bagus ini berhasil membuat Philomena menjadi drama-gloomy namun tetap smooth dan bertahan untuk tidak terlalu over gloomy. Ini memang kisah nyata, tapi bagi anda yang memang belum tahu tentang Philomena, lebih baik menghindari mencari informasi dan membaca bukunya agar bisa mendapatkan kepuasan lebih ketika menonton filmnya yang penuh dengan lapisan-lapisan twist.


    Coogan & Jeff Pope berhasil membuat naskah bagus yang fresh, nyentil dan menggelitik. Penceritaannya begitu kuat sekali. Naskahnya yang lucu dapat membuat kita tersenyum bahkan tertawa nyaring. Tetapi pada dasarnya film ini menceritakan tentang Agama, dimana Martin yang Atheis banyak berdebat dengan Philomena yang taat dengan Agama. Untungnya kedua tokoh ini dibangun dengan karakterisitik yang kuat, sehingga perdebatan-perdebatan dan konfliknya pun begitu menarik tanpa harus memihak salah satu karakter.


 Again and again, Dench menunjukkan performa terbaik pada umurnya yang sudah berkepala 8! Dench sangat berhasil memerankan Philomena yang begitu riang, tangguh dan relijius meskipun di sisi lain ia begitu merasakan kehilangan yang menyiksanya selama 5 dekade. Dench begitu meyakinkan! Coogan juga dapat mengimbanginya dengan sangat baik. chemistry mereka berdua benar-benar mengagumkan dan rasanya sulit sekali untuk dilupakan.


     Philomena, sebuah road movie dengan tema gloomy namun dikemas dengan lembut dan segar.  

Senin, 31 Maret 2014

Divergent (2014)


Director : Neil Burger
Written  : Evan Daughtery & Vanessa Taylor
Cast     : Shailene Woodley, Theo James, Ansel Egort, Zoe Kravits, Milest Teller, Ray Stevenson, Kate Winslet


     Again, again and again novel-novel young adult kembali direalisasikan ke dalam film. Mungkin keinginan pasar dunia memang masih di sekitar area itu. Tidak ada salahnya, toh film-film adaptasi ini mampu menampung pundi-pundi uang yang mana tidak menutup kemungkinan untuk dibuat sekuelnya. Ada yang mendapat pujian-pujian hangat, ada juga yang mendapat kritikan pedas. Itu semua tidak menjadi masalah sebenarnya, selama hasil pendapatan tersebut bisa balik modal hoho. 


     mengambil setting masa depan di Chicago saat era Dystopia yang mana masyarakat dibagi menjadi lima fraksi atau golongan yang sesuai dengan karakter pribadinya. Diantaranya ada adil dan selalu mementingkan kepentingan orang lain (Abnegation), jujur (Candor), terpelajar/pintar (Erudith), pecinta kedamaian (Amity)  dan pemberani/kuat (Dauntless). Beatrice (Shailene Woodley) adalah seorang remaja yang tidak termasuk di salah satu fraksi tersebut. Beatrice berbeda, ia memiliki hampir semua sifat di dalam dirinya. Divergent sebutannya. Bagi Jeanine (Kate Winslet) petinggi pemerintahan tersebut, Divergent adalah anomali yang dianggap bahaya. Oleh karena itu Beatrice pun diburu oleh para petinggi-petinggi tersebut untuk dimusnahkan. Di samping itu ada Four (Theo James) salah satu 'senior' di fraksi Dauntless yang menjadi love interest Beatrice.


    Jujur, saya merasa tertarik untuk menonton film ini karena ada Miles Teller & Shailene Woodley di dalamnya. Dan tentunya karena ada Neil Burger (The Ilusionist - Limitless) yang memegang kendali penuh pada film ini. Tentu saja film adaptasi ini tidak dibuat sembarangan. Selain para crew yang berpengalaman, ensemble cast dalam film ini juga menarik. Woodley bisa dibilang cukup berhasil memerankan karakter Beatrice yang di paruh awal hanyalah wanita biasa namun berubah menjadi wanita yang sangat tangguh, yaaaa meskipun tidak setangguh Katniss Everdeen, Woodley cukup baik memerankan karakternya senatural mungkin tanpa harus terlihat dibuat-buat. Theo James berhasil memerankan karakter Four. Sayangnya, hubungan mereka kurang di kembangkan dengan baik. Dan Kate Winslet tampil baik seperti biasanya meskipun tidak seganas yang diharapkan.


   Divergent ini memang mempunyai cerita yang menarik. Di tangan Neil Burger, film ini banyak menampilkan adegan-adegan aksi yang bagus. Di paruh awal, Divergent begitu meyakinkan, tapi setelah memasuki paruh kedua, Burger seperti kehilangan arah saat bumbu romansa diberikan. Pertanyaan pun timbul, apa yang ingin ditonjolkan dari film ini? sisi romansa atau aksinya? atau kedua-duanya? Karena kedua-duanya terasa tidak maksimal. Seperti ada kebimbangan dalam menentukan konsep. Keterbatasan waktu mungkin menjadi kendala bagi Burger, karena hampir semua momen-momen yang dihadirkan dalam film ini terasa tidak klimaks.


     Ya, Divergent memang begitu menghibur dengan segala aksinya yang cukup keren nan menarik meskipun beberapa moment tidak terealisasikan dengan cukup maksimal. Saya hanya berharap trilogi ini akan berkembang di film-film berikutnya mengingat naskah film kedua sudah dikerjakan oleh Akiva Goldsman dan sudah menentukan jadwal rilisnya pada tanggal 20 Maret 2015. We'll see!


 (7/10)

Selasa, 04 Maret 2014

Oldboy (2013)


Director : Spike Lee
Written  : Mark Protosevich
Cast       : Josh Brolin, Elisabeth Olsen, Sharlto Copley, Samuel L. jackson, Michael Imperioli.


     Jika ada film remake, rasanya sulit sekali untuk tidak membandingkan dengan film aslinya. Entah itu ber-genre horror, sci-fi, action ataupun drama. Tidak peduli juga darimana asal film aslinya, apakah film aslinya terkenal atau tidak, film sensasional maupun hanya film yang biasa-biasa saja. Film remake di tahun 2013 kemarin pun mendapat respon yang sangat beragam. Ada yang memuaskan, ada yang mengecewakan, bahkan ada yang hasilnya jauh lebih bagus dari film aslinya. Melihat film-film remake yang ada di tahun 2013 lalu, genre horror-thriller yang menjadi dominan. Ada Crime d'amour, Evil Dead, 301/302, Carrie, We Are What We Are, Maniac dan Oldboy.


   Seorang pria dipenjara dalam sebuah kamar menyerupai motel selama 20 tahun tanpa mengetahui alasan mengapa dirinya diperlakukan seperti itu. Premise yang menarik ini dieksekusikan dengan sangat sangat sangat baik oleh Park Chan-wook. Lalu bagaimana dengan remake-nya yang dipegang oleh sutradara nominasi Oscar, Spike Lee??


     Saya sama sekali tidak mempunyai ekspetasi yang berlebihan terhadap new Oldboy. Gurita? Long-take fighting scene? Twist ending yang ngehe’? Apakah momen-momen memorable itu ada dalam oldboy-nya Spike Lee. Beberapa adegam penting tetap ada dan di shot dengan cara yang berbeda serta development story yang sedikit dirombak. Salah satu cara yang cukup menarik, meskipun tetap tidak terpuaskan. Efek gloomy yang ingin diciptakan saja terasa kurang maksimal. Kurangnya pendalaman karakter juga membuat saya merasa biasa saja melihat penderitaan Joe. Hasrat seksual yang menggebu-nggebu karena tidak melihat wanita selama 20 tahun sama sekali tidak terbangun dengan baik. Padahal hal itu yang sebenarnya salah satu elemen penting dalam film ini.

Oldboy 2013 Stills 540x359 Oldboy (2013) Stills

     Akting Brolin cukup meyakinkan di awal hingga akhir. Sayangnya, bagian ending saat plot twist terbuka, Brolin sama sekail tidak bisa mengalahkan acting Choi Min-sik pada film aslinya. Sayangnya, ending dalam new Oldboy yang harusnya ngehe' malah sama sekali tidak membekas sedikitpun. 

     Bukan film yang buruk sebenarnya, tetapi mengingat original Oldboy yang masih membekas di kepala saya, membuat tanggapan saya terhadap new Oldboy menjadi seperti diatas. Oldboy arahan Spike Lee ini memang berusaha untuk tidak menyamai film aslinya, tetapi ada beberapa hal dimana Lee ingin memasukan adegan penting pada filmnya yang mana terlihat sedikit dipaksakan dan hasilnya menurut saya tidak maksimal. Membanding-bandingkan memang tidak baik, tetapi bagi kalian yang belum pernah menonton Oldboy yang asli, film ini mungkin dapat menawarkan sebuah Drama-Thriller yang cukup oke.

(5.5/10)

Senin, 03 Maret 2014

The 86th Annual Academy Awards / The OSCARS 2014

    

   PREDICTABLE. Ya, itu satu kata yang mewakili semuanya. Semua film yang dinominasikan pada Oscar tahun ini memang saya akui sangat bagus sekali, tapi memang sudah bisa diperkirakan yang menjadi unggulan di tahun 2013 lalu. Meskipun predictable, saya begitu puas sekali, karena hampir 100% tepat dengan ekspetasi saya. Dibawah ini saya akan memnulis para peraih piala emas gundul nan bugil dan saya akan menulis tanggapan saya terhadapa para peraih piala Oscar tahun ini.


BEST MOTION PICTURE OF THE YEAR
     Ya, saya memang menjagokan 12 Years A Slave sebagai film terbaik Oscar tahun ini. Film yang menceritakan tentang Slavery pada zaman apartheid arahan Steve McQueen ini benar-benar menyakitkan hati penonton dengan pengalaman visual yang tidak akan pernah dilupakan begitu saja. Masih ingat adegan long-take ketika Lupita Nyong'o dicambuk di tiang?? very heartbreaking. That's why mengapa saya sangat setuju bila film terbaik jatuh pada film yang penting ini.

Best Performance by an Actor In a Leading Role
     Wohoo! Matthew McConaughey!! Berperan sebagai cowboy homophobic yang mengidap HIV/AIDS dalam film Dallas Buyers Club benar-benar performa terbaiknya. Aktingnya dalam film ini benar-benar meyakinkan para audience, terlebih karena transformasi tubuh McConaughey yang menjadi sangat kurus!

Best Performance by an Actress In a Leading Role
  Ini dia. Wanita yang sudah dipastikan akan meraih Best Actress di Oscar tahun ini. Setelah Cate Blanchett memborong segala macam piala (Globe, Bafta, SAG, dll) berkat aktingnya sebagai sosialita yang hidupnya hancur dalam film Blue Jasmine, benar-benar powerfull namun tetap cantik.

Best Performance by an Actor In a Supporting Role
     Jika dalam Dallas Buyers Club Matthew McConaughey melakukan transformasi tubuh, Jared Leto melakukan lebih dari itu. Karena Leto berperan sebagai waria yang mengidap HIV/AIDS, maka selain menguruskan tubuhnya, ia juga mengenakan make-up cantik, gaun serta heels! Akting nya tidak berlebihan. So, you deserve it!

Best Performance by an Actress In a Supporting Role
    Ketika ditanya dukung Lupita atau Jennifer, jelas saya mendukung Lupita Nyong'o. Bukan berarti Jennifer Lawrence tampil buruk, tetapi memang Lupita lah yang paling unggul dengan akting yang begitu powerfull. Ditambah, 12 Years A Slave ini adalah debut akting pertamanya di layar perak!!

Best Achievement in Directing
  Sangat setuju jika Alfonso Cuarón yang meraih Best Directing. Why? Karena ini debut penyutradaan Cuarón setelah 7 tahun tidak membuat film. Semua penggunaan teknik dalam Gravity ini bisa dibilang sangat luar biasa. Editing yang halus, scoring yang indah, visual effect yang mengagumkan, sound mixing & sound editing yang mendebarkan serta sinematografi yang bisa dibilang terbaik sepanjang masa. See?? Sudah jelas bukan, kenapa Oscar memilih Cuarón.

Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen
Spike Jonze
   Kalian tahu orang dibalik kesuksesan Jackass??? Ya, Spike Jonze lah orangnya. Dibalik sisi 'Liar'nya saat duduk di bangku producer dalam Jackass, pria satu ini juga mempunyai sisi romantis yang tidak biasa. Setelah sebelumnya saya dibuat berceceran air mata dengan film pendeknya "I'm Here" sekarang dalam film Her, saya dibuat tercengang dengan ide original Jonze tentang Her. Naskah yang memukau tersebut berhasil meraih Best Screenplay dimana-mana!

Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published
    I have nothing to say. John Ridley berhasil membuat naskah yang menggetarkan hati dalam film 12 Years A Slave yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Solomon Northup.

Best Animated Feature Film of the Year
    The Wind Rises mungkin mempunyai peluang yang sama dengan Frozen untuk mearih Best Animated Feature, tetapi Oscar love musical so much and Frozen adalah musikal. So, sudah jelas Frozen yang terpilih.

Best Foreign Language Film of the Year
    Cukup mengejutkan ketika nominasi best foreign language diumumkan, film-film yang diyakinkan banyak orang seperti Blue Is The Warmest Color (Perancis) Gloria (Chile) Wadjda (Arab) The Past (Perancis) tidak masuk nominasi. Dengan nominasi yang sudah ditetapkan, awalnya saya mendukung The Hunt (Denmark) yang punya cerita kuat nan ngehe', tetapi rasanya sudah jelas bahwa The Great Beauty lah yang akan meraih best foreign language. Sinematografi yang dinamis, cast yang luar biasa memikat dan memiliki naskah yang cemerlang. Film asal Italy ini berhasil mengetuk pintu hati setiap orang yang menontonnya.

Best Achivement in Cinematography, Editing, Original Score, Sound Mixing/Editing & Visual Effect
   Gravity!! Lihat, semua nominasi di bidang teknis diborong semua oleh Gravity. Saya tidak tahu harus bicara apa, yang jelas Gravity adalah film survival ber-genre Sci-Fi dengan one man show di dalamnya yang dibalut visual efek keren dan sound yang mendebarkan serta shot-shot cantik yang dilakukan dengan sangat baik oleh sinematografer (Emmanuel Lubeszki). Sudah jelas mengapa Gravity berhasil membawa 7 Piala Oscar termasuk Sutradara terbaik!

Best Achievement in Production Design, Costume Design
   The Great Gatsby?? Ya! Sudah sangat jelas! art direction and costume design dalam film ini benar-benar maksimal! Production design yang megah dan mewah, costume yang indah, terkesan mahal dan unik. semuanya ada di dalam pesta!!

Best Achievement in Makeup & Hair Styling 
Dallas Buyers Club
    Mungkin, nominasi satu ini yang tidak sesuai harapan. Mungkin saya tidak begitu mengerti kemampuan makeup & hairstyling, tetapi saya lebih mendukung Jackass Presents: Bad Granpa ketimbang Dallas Buyers Club. Johnny Knoxville telah berhasil menipu banyak orang dengan makeup kakek-kakek yang 100% sangat meyakinkan! Sangat diherankan juga, mengapa American Hustle tidak masuk ke dalam nominasi. Tapi mau bagaimana lagi? Congrats Dallas Buyers Club!

Best Achievment in Music Written for Motion Pictures, Original Song
     Sudah sebulan terakhir saya mendengar lagu Karen O - The Moon Song yang lucu dan menenangkan hati dalam film Her. Tapi Let It Go yang dibawakan Idina Menzel dalam film animasi Frozen lah yang paling sering saya dengar, saya sangat menyukainya. Congrats Frozen!!

Best Documentary, Feature
    Sedikit kecewa ketika film-film dokumenter andalan saya (Blackfish & Stories We Tell) tidak masuk nominasi. Tetapi masih ada film dokumenter yang menjadi andalan saya di dalam nominasi, yaitu The Act of Killing a.k.a Jagal. Sudah sangat jelas bahwa saya mendukung The Act of Killing yang berhasil membuat Dokumenter mengerikan dengan visual yang menawan dan berhasil mencampurkan sisi absurd dan realita di dalamnya. Tetapi Oscar memilih 20 Feet From Stardom sebagai pemenangnya. Sayangnya, saya belum menontonnya. 

Best Documentary, Short Subject
  Karena saya belum menonton satupun film dokumenter pendek yang masuk nominasi ini, maka saya belum bisa memberikan komentar. The Winner: The Lady in Number 6.

Best Short Film, Animated
  Karena saya belum menonton satupun film pendek animasi yang masuk nominasi ini, maka saya belum bisa memberikan komentar. The Winner: Mr. Hublot (Luxemborg/France)

Best Short Film, Live Action
  Karena saya belum menonton satupun film pendek animasi yang masuk nominasi ini, maka saya belum bisa memberikan komentar. The Winner: Helium (Denmark)