Sabtu, 16 Februari 2013

The Words (2012)



THE WORDS
(There’s More Than One Way To Take A Life)

MPAA Ratings: PG-13

Producer                  : Jim Young (Don McKay, Lovelace)
                                       Tatiana Kelly (Happiness Runs)
                                       Michael Benaroya (Lawless, The Paperboy)
Director                     : Brian Klugman
                                      Lee Sternthal
Writters                     : Brian Klugman (Tron: Legacy, When Gravity Fails)
                                      Lee Sterthal (Tron: Legacy, When Gravity Fails)
Casts                         : Bradley Cooper (The Hangover I&II, Silver Lining Playbooks)
                                      Jeremy irons (Eragon, The Man In The Iron Mask)
                                      Dennis Quaid (The day After Tommorow, Vantage Point)
                                      Olivia Wilde (In Time, Year One)
                                      Zoë Saldana (Guess Who, Avatar)

D.O.P             : Antonio Calvache (Little Children, What Goes Up)
Editor             : Leslie Jones (The Master)
Genre             : Drama, Romance

Distributor                : CBS Films
Release Date           : 7 September 2012
Running Time         : 97 Minutes
Country                     : USA
Official Site               : www.TheWordsmovie.com

     The Words. Tertarik karna Bradley Cooper dan Zoë Saldana dipasangkan dalam film ini sebagai kekasih. Saya juga tertarik karna synopsis dan trailernya. Saya melihat ada sebuah cinta di dua zaman yang berbeda. Itulah yang saya tangkap pertama kali tentang film ini. Setelah menonton? Memang betul ada 2 kisah cinta yang berbeda zaman, tapi bukan itu inti ceritanya.
          The Words menceritakan tentang penulis muda New York bernama Rory Jansen (Bradley Cooper) dan kekasihnya Dora (Zoë Saldana) yang menjalani hidup yang sederhana. Semua novel buatan Rory selalu di tolak. Sampai suatu hari Rory menemukan sebuah novel usang dan dia menulis ulang novel itu. Dan tiba-tiba kesuksesan yang sangat besar dapat dimilikinya. Tapi  hal yang dilakukan Rory itu membuat sebuah kebimbangan dalam dirinya. Dia juga harus menyelesaikan sebuah masalah dengan lelaki tua yang ia temui di taman. (cukup sekian sinopsisnya, kebanyakan ntar malah jadi spoiler hahaa)
     Menurut saya film ini seperti The Cabin In The Wood tapi versi drama hahaha. Film ini mempunyai beberapa twist di dalamnya, tapi sayangnya tidak terlalu megejutkan. biasa saja. Mungkin karna saya sudah bisa menebak jalan ceritanya dari awal film. Tapi saya lumayan menyukai ceritanya. Film ini sangat ringan sekali, tidak perlu banyak mikir. Meskipun sedikit membosankan tapi film ini sangat bagus. Sinematografinya bagus dan tepat. Pemainnya pun patut diacungi jempol. Cooper dan Saldana sangat apik sekali sebagai kekasih, chemistrynya sangat kuat sekali. Kita bisa melihat cinta yang tulus dan sesungguhnya dari akting mereka sebagai Rory dan Dora. Luar biasa sekali.
     Untuk saya, film seperti ini sangat bagus sekali. Namun masih kurang greget, karna saya sempat merasa bosan ketika menontonnya, mungkin karena ilmnya terlalu lambat. Tapi di klimaks kebosanan terbsebut hilang dengan seketika. Terlebih akting Cooper yang tidak usah diragukan lagi kemampuannya dalam berakting. Saya sangat merasakan emosi Cooper dalam film ini.


My Rate         : (7/10)
IMDb Rate     : (6.9/10)


·         Tagline
-          There’s More Than One Way To Take A Life
-          Some Dreams test Us. Some Stories Connect Us. Some Moments Change Us. Some Choices Stay With Us. Forever.

·         Quotes
-          I’m young, soiled, impetuous and American. Humor me.
-     He loved her. He loved New York. But at Night, when the city was finally quiet, he wrote.
-          We All make our choices in life, the hard thing to do is live with them.

·         Trailer


·         Poster Lain
     
 

  Sumber: www.IMDb.com

Rectoverso (2013)



RECTOVERSO
(Cinta Yang Tak Terucap)

Producer                  : Marcella Zalianty & Eko Kristianto
Genre                         : Drama - Romance
Production               : Keana Productions
Release Date           : 14 Februari 2013
Running Time         : 107 Min
Country                     : Indonesia
Official Site               : @filmRECTOVERSO



     Film Indonesia omnibus kedua di tahun ini setelah 3SUM adalah RECTOVERSO. Di 3SUM kita bisa melihat 3 segmen dengan benang merahnya Love, Life & Death. Di Rectoverso kita akan melihat 5 segmen yang menceritakan tentang cinta yang digarap 5 sutradara cantik. Dan yang membuatnya unik adalah, 5 segmen tersebut tidak berkonsep back to back seperti 3SUM. Tapi menggunakan konsep interwave seperti film Kuldesak & Dilema. Konsep omnibus yang seperti ini bisa terbilang masih jarang. Film omnibus yang lain kebanyakan menggunakan konsep back to back. Tapi menurut saya lebih asik menggunakan konsep interwave karna kita tidak capek dan lebih terasa feelnya ketika semua segmen tersebut mencapai klimaksnya secara bersamaan. ini lah ke-5 segmen tersebut.



Hanya Isyarat
Director          : Happy Salma
Scriptwriter    : Key Mangunsong
Casts              : Amanda Soekasah – Hamish Daud - Fauzi Baadilla

     5 orang backpackers bertemu melalui sebuah forum mlis. Mereka tidak kenal satu sama lain. Tetapi Tano, Dali, Bayu dan Raga (Hamish Daud) sudah sangat akrab sekali. sedangkan Al (Amanda Soekasih) lebih senang menyendiri dan menggambar. Diam-diam Al jatuh cinta dengan Raga yang selama ini ia kagumi dari kejauhan tapi hanya sebatas punggungnya saja. Bahkan Al tidak pernah tau apa warna mata Raga. Hingga di suatu malam, semua berkumpul dan membuat permainan seru dimana mereka berlima harus menceritakan pengalaman hidup yang menyedihkan. Yang paling menyedihkanlah yang menang. Ketika Raga yang bercerita, Al merasa sedih karna ia tau kalau ia tidak akan pernah bisa memiliki Raga yang ia cintai.
    Semua omnibus pasti memiliki segmen terlemah diantara segmen-segmen yang lain. dan menurut saya, “Hanya Isyarat” ini lah segmen terlemah dalam Rectoverso. Tapi perlu diingat, segmen terlemah bukan berarti segmen tersebut jelek atau buruk. Ceritanya sendiri cukup menarik dan sangat jleb banget sebenernya,tapi di segmen-segmen yang lain jauh lebih baik. Tapi saya suka dengan segmen ini karna mengajarkan kita untuk bersyukur dan menerima apa yang terjadi tanpa harus mengeluarkan air mata. Segmen ini simple tapi punya arti yang mendalam tentang cinta.




Cicak Di Dinding
Director          : Cathy Sharon
Scriptwriter    : Ve Handojo
Casts              : Yama Carlos - Sophia Latjuba - Tio Pakusadewo

     Taja (Yama Carlos) adalah seorang pelukis muda dan masih lugu dengan yang namanya cinta. Hingga suatu malam ia  bertemu dengan Saras (Sophia Latjuba) perempuan yang sangat bersemangat dan berpengalaman dalam urusan cinta. perbedaan mereka membuat malam itu menjadi malam yang sangat special, khususnya bagi Taja. Beberapa hari kemudian mereka bertemu lagi tanpa disengaja dan dipertemuan ini lah Taja merasa jatuh cinta dengan Saras. Hingga suatu hari semua tentang Saras pun terkuak.
     Segmen yang satu ini lebih jleb daripada “Hanya Isyarat”. Acting Yama dan Sophia benar-benar sangat bagus sekali. karisma mereka berdua pun terlihat begitu asyik. Saya tidak tahu apa yang kurang dalam segmen ini, tapi yang jelas segmen ini bad but good. Trims.



Curhat Buat Sahabat
Director          : Olga Lydia
Scripwriter     : Ilya Sigma & Priesnanda Dwi Satria
Casts              : Acha Septriasa - Indra Birowo

     Amanda (Acha Septriasa) adalah seorang perempuan masa kini yang sering disakiti oleh kaum Adam. Reggie (Indra Birowo) lelaki yang membuka usaha fotocopy ini selalu siap setiap saat untuk mendengar Amanda curhat tentang pacarnya. Dan akhirnya curhatan tersebut membawa perubahan bagi mereka berdua.
     Acha….. ooohhh Acha….. sangat pantas bila dia mendapatkan piala citra untuk kategori peran wanita terbaik tahun 2012 di film “Test Pack”. Acting dia sangat natural sekali dalam film ini. Saya pun melihatnya Acha tidak acting tapi beneran curhat ke penontonnya. Indra Birowo pun sama. dia juga sangat natural sekali berperan sebagai Reggie yang kalem dan menjadi pendengar yang baik untuk Amanda. Konsep flashback yang digunakan membuat film ini menjadi fresh.



Firasat
Director          : Rachel Maryam
Scriptwriter    : Indra Herlambang
Casts              : Asmirandah - Dwi Sasono – Widyawati

     Senja (Asmirandah) seorang wanita lembut yang mengikuti  sebuah club bernama “Club Firasat” yang diketuai oleh Panca (Dwi Sasono). Club tersebut sering mengadakan pertemuan dan membicarakan firasat-firasat yang anggota alami akhir-akhir ini dan lagi-lagi Senja tidak membicarakan firasatnya.  Sebenarnya Senja menyimpan rasa cinta terhadap Panca dan Senja memiliki firasat yang sangat buruk terhadapnya. Kegalauan dan kerisauan pun melanda Senja karna firasat itu terus menerus memenuhi pikiran dan hatinya.
     Asmirandah yang terkenal karna sinetronnya ternyata bisa juga bermain dengan baik tanpa lebay. Scene nangis yang Asmirandah lakukan pun tidak terlihat seperti sinetron. Dan karakter Senja sangat pas sekali di perankannya. Dwi Sasono juga berhasil memerankan Panca dengan luar biasa. Terlihat sekali kalau panca itu tipikal lelaki yang pandai bicara positif, ramah dan tenang. Dan itu semua dapat ditanganinya. Dwi Sasono memang actor yang saya suka ketika dia mendapatkan peran lelaki sebagai lelaki lembut namun tetap jantan. Pemandangan-pemandangan dalam segmen ini bagus. Visualnya indah sekali.
    


Malaikat Juga Tahu
Director          : Marcella Zalianty
Scriptwriter    : Ve Handojo
Cast                : Lukman Sardi - Prisia Nasution - Dewi Irawan - Marcell Domits

     Abang (Lukman Sardi) adalah lelaki penderita Autism yang pandai bermain Biola. Ia tinggal bersama ibunya (Dewi Irawan) yang membuka rumahnya sebagai kost-kostan. Leia (Prisia Nasution) adalah salah satu anak kost yang tinggal dirumahnya. Hubungan Leia dan Abang sangat dekat sekali karna Leia sangat mengerti kondisi Abang yang harus diperlakukan sebagaimana manusia normal. Karna keakraban dan ketulusan Leia untuk berteman dengannya membuat Abang menjadi jatuh cinta pada Leia. Beberapa hari kemudian datanglah Han anak dari Ibu yang merupakan adik dari Abang. Kedatangan Han membawa perubahan terhadap Abang dan Leia.
     Ini segmen dengan cerita yang sangat menyentuh dan paling menyedihkan plus pemain yang tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. Cerita simple yang sangat berkualitas. Acting Lukman Sardi dan Dewi lrawan membuat saya merinding dan menangis sejadi-jadinya karna mereka. chemistry mereka berdua sebagai ibu dan anak sangat kuat sekali feelnya. Dan inilah segmen favorit saya seperti kebanyakan orang lain yang menonton film ini.

My Rate         :  (8/10)


Did You Know ?
- ke-lima sutradara wanita cantik film ini menjadi cameo di segmen Cicak Di Dinding

Quotes
- kadang-kadang pilihan yang terbaik adalah menerima.
- Semua anak sungai pasti akhirnya kembali ke laut juga.
- jika kita minum yang pahit, kita bisa mengingat yang manis-manis.

Trailer


Poster Lain
 

Sumber: www.filmindonesia.or.id

Rabu, 13 Februari 2013

Keramat (2009)



KERAMAT
(Your Worst Nigtmare Is Their Reality.)


Producer                 : Chand Parwez Servia (Test Pack, Red Cobex)
Director                   : Monty Tiwa (Sampai Ujung Dunia, Test pack)
Writer                       : Monty Tiwa (9 Naga, Pocong)
Casts                         : Poppy Sovia (Catatan Akhir Sekolah, Hi5teria)
                                       Migi Parahita (Get Married 3, XXL: Double Extra Large)
                                       Sadha Triyudha (Modus Anomali)
                                       Miea Kusuma (Sanubari Jakarta)
                                       Dimas Projosujadi (Laskar Pemimpi, Sampai Ujung Dunia)
                                       Diaz Ardiawan (Sampai Ujung Dunia)
                                       Brama Sutasara
D.O.P                        : Ucup Simena
Editor                       : Benjamin W. Tubalawony (Get Married 3, Cinta 24 Karat)
Genre                       : Horror
Distribution           :  Starvision Plus
Release Date         :  3 September 2011
Running Time       : 82 Minutes
Country                   : Indonesia

My Rate       :(8/10)
IMDb Rate  :(7/10)

     Found Footage (FF) semakin eksis di dunia perfilman. Baik film Hollywood maupun film lokal. Sayangnya, penerapan teknik FF (pengambilan gambar seperti documenter) pada film-film lokal masih dianggap “sampah”. Terlebih karna penerapan FF lebih terasa untuk film bergenre horror. Tau sendiri tanggapan masyarakat Indonesia terhadap film-film horror Indonesia selalu identik dengan sex, kalau tidak ada sex-nya pasti ada “susu”nya saja. Ya pokoknya film-film horror Indonesia termasuk film-film kacrut lah <<< tanggapan beberapa masyarakat Indonesia. Nah, tanggapan seperti ini lah yang sebenarnya bahaya. Karna persepsi tersebut membuat film bermutu dan berkualitas yang dimana genre aslinya horror tanpa embel-embel sex akan tenggelam karna film-film kacrut tersebut. Inilah yang sangat disayangkan.
     Keramat adalah salah satu contoh kasus film horror ASLI yang bermutu tetapi tenggelam karna film-film kacrut yang banyak tersebar. Film Keramat yang menggunakan teknik FF ini menceritakan segorombolan pemuda-pemudi Jakarta yang akan menggarap sebuah film. Poppy dan Cungkring mendapat sebuah tugas menjadi team Behind The Scene untuk film yang akan dibuat. Oleh karna itu, Cungkring sang cameramen harus mengikuti semua kegiatan yang dilakukan untuk bahan Behind The Scene sekaligus untuk dokumentasi.
     Mereka ber-8 Poppy, Cungkring, Sadha, Diaz, Miea, Migi, Dimas, dan Brama pergi menuju Yogyakarta untuk proses syuting. Tetapi semua berubah drastis. Keanehan-keanehan pun terjadi setelah salah satu temen mereka Migi kesurupan dan menghilang secara misterius.
     Film ini tidak seperti The Last Exorcism yang memakai teknik FF dan mengusut tema kesurupan. Memang sama-sama kesurupan, tapi bedanya Keramat lebih kental akan kebudayaan Indonesia. Penggunaan nama asli dalam film juga membuat film ini terlihat lebih nyata dengan script yang tidak ditulis sama sekali alias semuanya improvisasi. Hal tersebut tidak membuat film ini menjadi acak-acakan. Seperti yang saya bilang sebelumnya, film ini benar-benar terlihat nyata dan asli. Acting-akting para pemain juga tidak perlu diragukan lagi. Ditambah sutradaranya Monty Tiwa, dia sangat ahli sekali mengarahkan actor dan aktris dalam sebuah film agar terlihat lebih meyakinkan dan menjiwai.
     Film bagus bukan berarti terlepas dari sebuah kejanggalan. Saya merasa agak sedikit aneh ketika salah satu dari mereka melakukan aksi seperti di film [REC] karna dari awal saya melihat ini film horror, bukan zombie -_____-. Ada juga adegan ketika Brama tiba-tiba ditarik entah oleh hantu atau apapun itu kedalam sebuah semak-semak. Yang membuatnya aneh adalah, semua teman-temannya menganggap Brama sudah mati. Ditarik bellum tentu mati kan? Coba tengok Paranormal Activity, banyak sekali adegan ditarik kakinya tapi tidak mati tuh.
     Ketika adegan-adegan yang janggal itu terlihat dan filmnya sudah mencapai klimaks, saya mulai berpikir seperti apakah endingnya? Garing kah? Seru kah? Menakutkan kah? Dan ternyata endingnya cukup memuaskan. Mau tau? Nonton filmnya. Beli dvd-nya ya J


·        Did You Know ?
-         Syutingnya dilakukan tanpa scenario.
-         Semua nama pemain dalam film adalah nama asli.
-       Banyak terjadi hal-hal diluar dugaan yang terjadi kepada cast & crew film ini.

·        Tagline
-         Your Worst Nigtmare Is Their Reality.


·        Trailer